about me I

Jumat, 16 Desember 2011

Meninggalkan Zona Nyaman Demi MLM ?

Sekitar Medio tahun 1999, Up line saya, dalam sebuak seminar Multi Level Marketing (MLM) bercerita tentang kisah Iskandar Zulkarnaen dan pasukannya yang membakar seluruh kapal yang mereka miliki tepat sesaat setelah mendarat. Tujuan sang panglima perang sangat jelas : Menang dalam pertempuran .. atau .. mati ! Tak ada jalan keluar. Tak bisa kembali ke laut karena seluruh kapal telah terbakar menjadi arang.


Sedemikian berpengaruhnya cerita itu, sampai - sampai di kemudian hari beberapa teman saya banyak yang keluar kerja hanya untuk fokus ber MLM ria. Termasuk saya. Desember 1999  saya "Membakar" perahu saya. Saya meninggalkan Zona nyaman saya sebagai karyawan level menengah di sebuah perusahaan multinasional untuk terjun ke dunia wirausaha, dunia MLM.


*** 


Sekian banyak buku motivasi, sekian banyak motivator, selalu merekomendasikan untuk keluar dari zona nyaman. Meninggalkan zona nyaman.


Kalau saya pikir - pikir, pada saat saya bekerja di perusahaan dengan status karyawan pada saat itu, saya kurang apa sih ? Gaji cukup. Sampingan punya. Tidur di hotel tiap saat bisa. Makan di mana saja mampu. Pergi ke luar negeri sering. Mobil punya. Rumah ada. Itulah Zona nyaman yang saya tinggalkan saat itu untuk terjun ke dunia MLM.


Setelah hampir 1 tahun ber MLM ria, apa yang saya dapat ? Benar ! Saya meninggalkan zona nyaman saya. Saya kemudian berada di zona yang sangat tidak nyaman. Sangat tidak nyaman.


Bonus dari MLM nddak nyampe 10% dari gaji saya saat saya jadi karywan. Usaha sampingan hilang karena nddak punya 'jabatan', boro-boro tidur di hotel setiap saat, paling ke hotel seminggu sekali untuk seminar, itupun cuma dapet kopi doang. Makan di mana saja ? Ho..ho.ho .... mau makan kepiting saus tiram sama istri seminggu sekali saja mikirnya beribu - ribu kali.  :-) Saya berhasil KEHILANGAN kenyamanan yang selama ini saya punya.


*** 


Para leader MLM suka sekali ngompor - ngomporin membernya untuk meninggalkan pekerjaan mereka sebagai karyawan  : "Ngapain pergi pagi pulang petang tapi penghasilan pas - pasan ?  Ngapain punya banyak uang tapi nddak punya waktu luang ? Go Freedom ! Tinggalkan zona nyaman anda !"


So ....


Baju karyawan sudah ditanggalkan. Gaji tiap bulan sudah hilang. Bonus dari ber MLM ria tak kunjung datang. Tiap minggu mosti ikut seminar, mosti telpon sana - sini, mosti beli 'tool kit', mosti beli buku ini dan buku itu, mosti ketemu orang di cafe, mosti home sharing di rumah si anu, semua butuh biaya. Butuh duit ! Bener-bener bukan kehidupan yang nyaman.


Salah satu yang diharapkan dalam hidup ini adalah hidup yang nyaman. jadi, jika kenyamanan yang kita harapkan, mengapa harus ditinggalkan ? 


Meninggalkan zona nyaman demi MLM ?


Bukankah MLM bisa dikerjakan oleh siapa saja dan di mana saja ? Bisa dikerjakan oleh karyawan tanpa meninggalkan pekerjaan pokoknya sebagai karyawan ? Jika bisa dikerjakan tanpa meninggalkan pekerjaan pokok sebagai karyawan, kenapa harus meninggalkan pekerjaan yang sudah jelas untuk meraih sesuatu yang belum jelas ?


Seorang leader MLM yang sudah kaya raya bisa saja berkata : "Jangan mau jadi karyawan ! Janggan mau jadi orang gajian ! Ngapain pergi pagi pulang petang dan kehilangan banyak waktu luang dan terkurung di ruang beton selama lebih dari 8 jam sehari, 5 hari dalam seminggu, sepanjang bulan, sepanjang tahun ? Buat apa ?"


Seorang Karyawan menengah, bisa juga berkata : "Jangan mau ikutan MLM ! Jangan mau dikibulin sama up line ! Ngapain pergi seminar setiap minggu, wara - wiri ke sana kemari ngejar prospek hanya untuk jualan sabun sepanjang waktu ? Buat apa ?  Waktu luang akhirnya nddak dapat, penghasilan pun tidak jelas. Boro- boro bisa meraih financial freedom. Buat beli rokok aja ngecer !"


*** 
Jika kita sudah berada di dalam zona nyaman, menurut saya sih jangan ditinggalkan. Sudah nyaman kok malah ditinggalkan. Belum tentu yang "di luar sana" itu nyaman. Kecuali sudah tidak nyaman dengan kenyamanan yang ada.


Jika sudah nyaman sebagai distributor di perusahaan MLM, ya jangan ditinggalkan kenyamanan itu. Dipertahankan agar bonusnya makin besar, bisa menikmati waktu luang tanpa harus dipusingkan dengan tunggakan rekening listrik dan biaya sekolah anak-anak :-)


Jika sudah nyaman sebagai karyawan, ya jangan ditinggalkan kenyamanan itu. Dipertahankan agar prestasinya meningkat dan karirnya melesat. Kalau ingin mencoba mengembangkan MLM , kan bisa dikerjakan tanpa meninggalkan pekerjaan yang sudah jelas-jelas menghasilkan :-)


Jika saat ini tidak nyaman dalam posisi karyawan, percayalah, membangun bisnis MLM di tahun - tahun pertamapun jelas bukan pekerjaan yang nyaman kok.


Jika saat ini tidak nyaman dalam posisi sebagai distributor MLM, percayalah, sekian banyak karyawan yang pakai dasi dan ngantor di gedung bagus juga banyak yang bekerja dibawah tekanan dan jauh dari rasa nyaman kok.


Zona nyaman itu bukan untuk ditinggalkan. 


Kecuali ... 


kita sudah tidak merasa tidak nyaman dengan kenyamanan yang ada pada saat ini.


Semoga Bermanfaat.


Silahkan hubungi saya untuk berbagi cerita seputar lika-liku MLM.


Silahkan hubungi saya jika anda berminat untuk menerbitkan tulisan - tulisan saya menjadi sebuah buku :-)




putudjajadiwangsa@gmail.com
www.likalikumlm.blogspot.com

Rabu, 14 Desember 2011

Sepakat Tentang MLM (Multi Level Marketing )


Kalau ada pertanyaan : " Multi Level Marketing (MLM) itu bisnis beneran atau bisnis bo'ong - bo'ongan ?" Maka jawabannya tergantung kepada siapa yang menjawab.Kalau pertanyaan itu ditujukan pada para leader sukses MLM, maka jawabannya : "MLM adalah bisnis beneran ! Bisnis luar biasa !". Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada orang yang "anti MLM", maka jawabannya mungkin : " MLM adalah bisnis ngibul ! ". Kalau pertanyaannya ditujukan pada penulis buku "Sukses MLM" (yang penulisnya sendiri belum tentu pernah terjun langsung ke dunia MLM ) mungkin jawabannya : "MLM Peluang bisnis yang bagus !" < baca : yang penting buku saya laris !>.

Kalau ada yang bertanya : Apakah ada sistem jaringan yang tanpa modal dan sangat minimal resiko ruginya serta tak perlu keluar rumah, tidak usah memprospek orang, tidak usah belanja, tidak usah tutup poin ?" Tentu saja jawabnya : Ada ! klik di sini untuk melihat sistem jaringan single level marketing dengan reward premium domain :-)

Kalau anda bertanya : "MLM apa yang paling baik ?" jawaban yang akan didapat -- lagi - lagi -- tentu saja sangat tergantung kepada siapa anda bertanya. Setiap orang yang bergabung dengan MLM tertentu, tentu saja akan menjawab bahwa perusahaan MLM nya adalah yang terbaik.

Apakah MLM yang 'baik' menurut si Fulan, akan baik pula untuk anda ? Tentu saja jawabannya adalah : Belum tentu. Artinya : Mungkin MLM yang baik menurut si Fulan itu, baik juga buat anda, dan mungkin juga MLM yang baik menurut si Fulan itu tidak cocok buat anda.

***

Jika petanyaan di atas ditujukan kepada saya: "MLM itu bisnis beneran ?" ; " MLM apa yang terbaik ?" maka jawaban saya akan sangat tergantung dari siapa yang bertanya. :-)

Pertanyaan - pertanyaan yang kita lempar kepada orang lain akan menghasilkan jawaban yang beragam. Tergantung kepada siapa kita bertanya. Demikian juga pertanyaan - pertanyaan yang diarahkan kepada saya, juga akan berbuah jawaban yang mungkin tidak sama dalam arti tergantung kepada : Kapan, siapa, dimana, bagaimana dan apa pertanyaannya.

Sebagaimana masalah - masalah lain dalam kehidupan, ber MLM ria pun tak bisa dilepaskan dari Konteks. Dalam konteks apa kita bertanya. Dalam konteks seperti apa seseorang menjawab. perbedaan konteks akan berbuah perbedaan jawaban. Kadang orang melihatnya sebagai inkonsisten. Hari ini bilang "a", besok bilang "c" lusa bilang "z". :-) (Jadi inget pernyataan seorang politikus nasional yang pernah bilang : Siapa bilang "si anu" tidak konsisten ? "Si Anu" sangat konsisten untuk tidak konsisten !" )

***

Meskipun dari kecil sampai besar kita diajarkan tentang "Musyawarah untuk mufakat", tentu saja dalam realitas kehidupan, kita terbiasa untuk melihat dan menerima bahwa tidak semua musyawarah berakhir dengan kata mufakat. Lagi pula tidak semua masalah bisa di musyawarahkan.

Kita bisa melihat dari sudut pandang seperti ini : Mau mufakat atau tidak mufakat, hasilnya tetap saja sepakat. Kita bisa sepakat tentang MLM dan kita juga bisa sepakat untuk tidak sepakat tentang MLM. Kemungkinannya cuma dua itu toh ? Sepakat untuk sepakat bahwa MLM adalah bisnis yang baik dan benar ... atau ... sepakat untuk tidak sepakat bahwa MLM adalah bisnis yang baik dan benar. :-)

Baiklah ...

Karena  ... kita sudah sepakat untuk mengembalikan jawaban atas pertanyaan - pertanyaan di atas kepada diri kita masing - masing ( karena sebagai manusia dewasa tentu saja kita tidak boleh memaksakan kehendak pada orang lain ;-) nddak boleh merasa benar sendiri ... nddak boleh merasa salah sendiri ... ) maka  ... tibalah kita di akhir tulisan ...

Jika ber-MLM-ria bisa membuat kehidupan anda dan orang - orang di sekitar anda berubah ke arah yang lebih baik (meskipun tidak harus kaya raya), maka ...saran saya ... lanjutkanlah ber MLM ria dengan baik dan benar.

Jika tidak ber-MLM-ria adalah pilihan terbaik bagi anda dan orang - orang di sekitar anda, maka saran saya adalah ... lupakanlah MLM.

Kita bisa sepakat bahwa MLM itu baik untuk kita.
Kita juga bisa sepakat untuk tidak sepakat mengenai kalimat di atas itu.

Semoga bermanfaat.

putudjajadiwangsa@gmail.com
www.likalikumlm.blogspot.com

Senin, 12 Desember 2011

Lembut di tangan


Di kemasan deterjen pencuci pakaian biasanya tertulis kata - kata "Lembut di Tangan", namun meskipun ada "jaminan" bahwa deterjen pencuci pakaian itu lembut untuk tangan, tentu saja kita tidak akan merendam tangan kita seharian di dalam air deterjen karena ingin "melembutkan" tangan. Meskipun (mungkin) lembut untuk tangan, deterjen dibuat untuk mencuci pakaian, bukan untuk melembutkan tangan.

Hidup kita hari ini disesaki oleh ribuan iklan yang berlomba - lomba mengejar kita dimanapun kita berada. Dari mulai membuka mata sampai menutup mata. Dari mulai iklan TV, koran, radio, bilboard, pamplet, sampai "hujan SMS Iklan" yang tiba - tiba masuk begitu saja ke inbox di handphone kita.

Hidup kita juga mungkin belum lengkap kalau belum pernah terkena "jebakan" MLM (Multi Level Marketing) : Ditelepon teman, bilangnya ada bisnis bagus, padahal ... MLM. Di undang teman, katanya mau diajak makan malam, padahal MLM. ;-)

Tidak semua barang dan jasa yang di iklan kan itu kita butuhkan. Tidak semua produk dan jasa yang ditawarkan dengan sistem MLM itu kita butuhkan. Namun, ketika "iklan" itu bercerita tentang "peluang usaha" yang konon bisa dilakukan oleh siapa saja, di mana saja dengan modal "berapa ajah", namun, ketika "iklan" itu bercerita tentang "peluang kaya raya dalam tempo singkat ", "Mobil dan rumah mewah" , yang - konon - bisa diraih hanya dengan cara ngajak orang untuk membeli sabun pencuci serbaguna ;-) atau membeli suplement "ajaip" yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit, ... maka ... semua barang dan produk itu menjadi seolah tak penting lagi. "Sabun cuci serbaguna" dan "Suplement ajaip" itu menjadi tak penting lagi ...Yang penting adalah ... bisa cepat kaya .

Hari ini kita sangat sulit menemukan iklan yang jujur. Hari ini sebagian konsumen sudah mulai cerdas untuk tidak terlalu cepat percaya pada iklan. Apalagi ketika iklan itu terlalu bombastis. Seperti iklan "Tabib Sakti Mandraguna" yang konon bisa menyembuhkan segala macam penyakit, dari mulai Impotensi, kanker sampai HIV, dari mulai panas dalam sampai santet. Seolah meniadakan sekian banyak dokter specialis yang jumpalitan belajar seumur hidup di dunia medis.


Iklan adalah bagian dari marketing.


KETIKA sebuah perusahaan yang berbasis Multi Level Marketing memiliki ratusan ribu orang distributor yang doyan "ngiklan" dengan kata - kata yang muluk ...

MAKA sampai kapan orang akan percaya dan mau mendengar ?

Iklan sebagus apapun pada akhirnya harus disertai dengan bukti nyata.
Iklan tanpa bukti adalah ngibul.
Siapapun tentu tidak suka dikibulin.
Siapapun tidak suka di cap sebagai tukang ngibul.

***

Deterjen dibuat untuk mencuci pakaian. Bukan untuk melembutkan tangan. Meskipun deterjen itu (mungkin benar) lembut di tangan.

Perusahaan MLM membuat perusahaan berbasis MLM untuk menjual produk dan jasa sebanyak - banyaknya. Bukan untuk membagi - bagi sekian banyak uang, mobil dan rumah mewah kepada seluruh distributornya.

Konsumen atau member MLM bergabung dengan perusahaan MLM - hendaknya - karena membutuhkan atau menginginkan produknya. Bukan karena ingin cepat kaya raya dengan cara mudah dalam waktu singkat.


Semoga Bermanfaat.

putudjajadiwangsa@gmail.com
www.putudjajadiwangsa.blogspot.com

Jumat, 18 November 2011

Menjual Mimpi


Kita mengenal Asosiasi Penjual Langsung Indonesia (APLI), namun kita tidak pernah mendengar Asosiasi Perusahaan Multi Level Marketing Indonesia. Direct Selling mungkin terlihat serupa dengan Multi Level Marketing ( MLM ), namun direct selling jelas tidak sama dengan Multi Level Marketing (MLM).

Saat bertemu dengan member MLM abal – abal, coba tanya : apa yang mereka jual (Sell) ? Kebanyakan dari mereka ternyata tidak menjual produk apapun kecuali menjual mimpi, harapan. Produknya mungkin ada, tapi kebanyakan produk itu hanya kamuflase.

Kebanyakan produk itu tidak bisa dijual tanpa bicara mimpi. Kebanyakan orang tak akan membeli produk itu jika tidak didahului cerita tentang “d r e a m” … (Coba tutup mata anda … bayangkan … dengan bisnis ini …suatu saat …anda bisa punya uang …. dan waktu luang ! :-0 )

Karena sebagian besar produk – produk yang dipasarkan dengan sistem multi level marketing ( MLM ) tidak mudah untuk dijual secara langsung (Direct ), maka para top leader membuat “Support System” . Dibuatlah berbagai jurus : Jurus mengundang …jurus membuat janji pertemuan … teknik menebar contact tape …cara demo produk … teknik menyusun dream book … …. Alih – alih menjual produk secara langsung, sekian banyak member perusahaan Multi Level Marketing (MLM) malah dibuat sibuk dengan wara – wiri mengundang orang ke sana ke mari, berulang – ulang “mengejar” prospek agar mau menghadiri pertemuan, sibuk mencari nomor telpon teman baru untuk dihubungi …

“Hallo … selamat siang Bapak / Ibu … nama saya anu .. saya mendapat nomor bapak/ibu dari teman saya yang bernama anu …saya kebetulan sedang mengembangkan ‘bisnis luar biasa’ yang saya yakin sangat cocok untuk bapak / ibu …. Dalam 7 hari ke depan kira – kira kapan bapak / ibu punya waktu barang 30 menit saja untuk bertemu ?” … Begitu kira – kira ‘jurus’ menelepon yang diajarkan oleh para top leader mereka. Seringkali yang mereka tawarkan adalah “Sebuah bisnis bagus”, “Peluang usaha spektakuler”, “Usaha luar biasa” … jarang dari mereka yang benar – benar berusaha menjual produk real secara langsung (Direct Selling).

Berbeda dengan para penjual asongan yang biasa jualan di gerbong – gorbong kereta kelas ekonomi. Jelas , langsung menjual produk ! : “Rokok Pak …Rokok …”, “Lontong …gorengan…lontooooong “, “Tahu..tahu…tahu sumedang panas ..tahuuu”, “Kopi susunya kopiii … ayo daripada ngantuk kopi susunya kopiiii …”. Jelas pedagang asongan itu langsung berbicara produk. Menjual secara langsung ke konsumen. Saya tidak pernah mendengar ada tukang rokok asongan yang menawarkan dagangannya dengan berkata : “Bapak – bapak ingin cepat kaya ? Ingin memiliki kebebasan waktu dan kebebasan financial ? Ingin kapal pesiar ? Ingin jalan – jalan ke luar negeri ? Ayoooo…. Beli rokok saya… ayooo ….” (  )

Jadi … yang disebut direct selling itu yang mana ? Tukang tahu yang mengambi tahu langsung dari pabrik dan menjualnya secara langsung kepada penumpang yang sedang kelaparan di gerbong kereta kelas ekonomi, atau tukang jualan mimpi yang selalu berbicara rumah dan mobil mewah agar orang mau membeli shampoo ajaip dengan harga selangit dimana atas penjualan itu si pembeli tidak hanya membayar produk namun juga membayar biaya bonus untuk sekian banyak member yang terdiri dari sekian banyak level ?”

Terlepas apakah sebuah perusahaan menggunakan sistem Single Level Marketing maupun Multi Level Marketing (MLM), Saya sepakat, perusahaan – perusahaan yang tergabung dalam Indonesia Direct Selling Association (Asosiasi Penjual Langsung Indonesia) adalah perusahaan - perusahaan yang legal. Namun kenyataan di lapangan, kita bisa melihat dengan mata telanjang sekian banyak perusahaan – perusahaan itu membiarkan bahkan memberi dukungan kepada para top leader mereka untuk jualan mimpi. Bukan jualan produk.

Semoga Tulisan ini bermanfaat dan menjadi amal sholeh.
putudjajadiwangsa@gmail.com

Rabu, 26 Oktober 2011

MLM APA YANG BAGUS BUAT SAYA ?



Karena banyak menulis tentang Multi Level Marketing (MLM), maka sering saya ditanya : “ MLM apa yang bagus buat saya ?” (Nah, lho !)

***

JIKA definisi “MLM Bagus” adalah MLM yang bisa membuat kita kaya mendadak dalam waktu singkat dengan modal “seuprit” dan dengan upaya yang minimal, saya yakin, sangat yakin, di dunia ini tidak ada satupun MLM yang seperti itu. – jadi – kalau ada praktisi MLM yang menawarkan sebuah MLM yang KONON bisa membuat siapapun kaya mendadak dalam waktu singkat dengan modal “seuprit” dan dengan upaya yang minimal --- maka --- 100% dapat dipastikan bahwa dia tukang ngibul . Titik.

***

“Anda kok nddak bosen - bosen nulis tentang MLM, padahal Anda tidak hidup dari bisnis ini dan tidak kunjung kaya dengan bisnis MLM ini ” Demikian sebagian orang berkata kepada saya.

Mendengar perkataan kayak gini dan sejenisnya (biasanya dikatakan dengan wajah yang agak-agak sinis dan tatapan mata yang gimanaaaa gitu … he he ), saya biasanya akan berkata : “Nah itu die ! Itu artinya sayah bener – bener berpedoman, menghayati dan mengamalkan ajaran Robert T. Kyosaki yang mengajarkan bahwa “Banyak sekali manfaat ber –MLM- ria SELAIN UANG ! “ ( Heu  )

Jadi, MLM Apa yang bagus ?

MLM yang bagus itu adalah …MLM yang punya produk bagus, saking bagusnya produk itu, sehingga member nya nddak akan merasa rugi meskipun nddak dapet bonus, tetep beli meskipun nddak pakai iming – iming mimpi .

MLM yang bagus itu adalah … MLM yang punya member orang – orang yang waras, bukan yang dipenuhi oleh member – member yang terjangkit penyakit kejiwaan akut, tukang mimpi, tukang ngibul. Tak sejalan antara ucapan dan kenyataan. (Tiap hari yang dibicarakan mobil dan rumah mewah melulu … :-o)

MLM yang bagus itu adalah …MLM yang perusahaannya jelas, legal dan teruji dari segi waktu serta dikelola oleh manajemen yang kompeten.
MLM yang bagus itu adalah… MLM yang nddak melulu jualan “marketing plan”, tapi berbicara apa adanya. Fact. Bukan Plan doang … 

***

Pertanyaannya sekarang : “Ada nddak di dunia ini MLM yang produknya Bagus, Marketing Plan nya bagus, member dan support system nya bagus, dan perusahaannya juga bagus ?” jawabnya tentu saja : “ Mungkin ada, tapi , meskipuan ada , jumlahnya PASTI sangat sedikit.”

Pertanyaan berikutnya : “Apakah sebuah MLM yang memiliki produk, perusahaan, support system dan marketing plan yang bagus akan menjamin seluruh membernya bakal kaya raya ?” Jawabnya adalah : T I D A K M U N G K I N . Titik.

***

Jadi, MLM apa yang bagus buat pemula ?
Jika motivasi Anda dalam ber MLM ria adalah kekayaan (baca : uang), maka tidak ada satu MLM pun di dunia ini yang bisa memberi peluang bagi para pemula lebih dari 0.001% .

Semoga Tulisan ini bermanfaat dan menjadi amal sholeh.
putudjajadiwangsa@gmail.com

Minggu, 19 September 2010

Susah Menjual


Seorang sahabat “mengeluh” dan berkata : “Saya susah JUALAN produk MLM, produk ini memang bagus, tapi mahal !”

Saya bilang : “ Kalau produknya susah DIJUAL, ya jangan JUALAN produk itu. Tidak usah jadi TUKANG JUALAN. Kalau mau JUALAN, nggak perlu ikut MLM. Mendingan jadi PENJUAL rokok asongan di lampu merah. PASTI LAKU ! Produk rokok itu MUDAH dijual dan TIDAK MAHAL. Tidak pernah ada PENJUAL rokok asongan yang tidak berhasil MENJUAL 1 bungkus rokok pun dalam sehari. Padahal, yang DIJUAL jelas – jelas racun. Jelas – jelas tertulis : “ MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTEN DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”.

***

Saya teringat “pesan” yang saya dengar secara langsung (nggak minjem telinga, nggak minjem mata) dari seorang TOP Leader Sukses sebuah perusahaan MLM yang kurang lebih “bunyi” nya seperti ini : “Pekerjaan utama praktisi MLM itu BUKAN JUALAN. Tugas utama praktisi MLM BUKAN MENJUAL sebanyak – banyaknya produk kepada sekian banyak orang sendirian. Kalau ini yang dilakukan, saya tidak akan berada di bisnis ini, karena sebelum terjun ke dalam bisnis MLM, saya SUDAH memiliki sekian banyak toko yang MENJUAL sekian banyak ragam barang kepada sekian banyak orang.”

Kata – kata itu saya dengar dua tahun yang lalu. Terakhir kali saya bertemu Top Leader yang saya maksud di atas satu bulan yang lalu. Dan saat ini ia telah dinobatkan sebagai “ 1 Million Dollar Member” Oleh perusahaan. Sebutan bagi seorang member yang telah mendapat akumulasi penghasilan 1 Juta USD ( Sekitar Rp. 10 Milyar) . Ini bukan ngibul. Ini faktual. Perusahaan MLM yang diikutinya diaudit oleh Price Waterhouse Cooper dan terdaftar di bursa saham Wallstreet. Sebelum ber-MLM-ria, Ia adalah seorang pengusaha konvensional yang cukup sukses dan memiliki jaringan toko konvensional yang cukup banyak hingga saat ini.

Jadi ...

Ketika ada sekian banyak praktisi MLM yang “mengeluh” produknya susah dijual, harganya mahal, dan kemudian bertanya : “ Bagaimana cara mengenalkan “dagangan” saya ? Bagaimana saya bisa MENJUAL produk – produk ini ? “ Seringkali saya bilang kepada sahabat – sahabat saya yang “seperti itu” dengan kata – kata singkat : “Kalau produknya susah dijual dan mahal, ya jangan jualan produk “seperti itu”. Ibarat supermarket, ngapain menuh – menuhin rak dengan produk yang nggak laku – laku ?
Saya serius dengan jawaban itu. Lha, kalau memang sudah jumpalitan sekian lama menjual sebuah produk, dan produk itu susah dijual , ngapain juga mosti ngotot jualan produk yang jelas – jelas nggak laku ?

Saya juga suka balik bertanya : “Kalau “dagangan” nya susah dijual, mengapa anda masuk perusahaan MLM “seperti itu” dan mengapa membeli produk “seperti itu “? Kalau produknya mahal, mengapa anda mau membeli produk itu ?”
Jawaban atas pertanyaan itu hampir seragam : “Saya mau “kaya raya” dari bisnis ini dan saya ingin mendapat “uang yang banyak” dari bisnis ini !”

Wadoh .... (Biasanya saya garuk – garuk kepala kalau sudah mendengar jawaban “seperti ini”. Kepala Saya suka jadi pusing) LOGIKANYA bagaimana ? Produknya Mahal ... dijualnya susah ... tapi dia berharap orang lain MAU MEMBELI, dan berharap dengan itu ia kemudian bisa jadi “kaya raya” . ” How come ....?

Saya jadi ingat lagi “pesan” dari seorang leader MLM yang saya dengar dengan telinga saya sendiri dari jarak kurang dari 1 meter ! Begini bunyi “pesan” nya : “ Kalau Anda niat JUALAN, kalau Anda niat “mencari uang”, Anda tidak akan pernah benar –benar sukses di bisnis ini. NIAT Anda akan dengan mudah DIBACA oleh orang lain, dan orang lain pada dasarnya tidak suka “dijualin”, apalagi kalau bahasa tubuh kita menunjukkan bahwa kita menginginkan UANG dari orang itu. Orang itu akan berpikir ; “ Kamu bukan mau membantu saya, kamu hanya inginkan uang saya ....” "

Setelah saya renungkan, buat saya, kalimat itu benar adanya. Saya suka risih dan nggak enak hati kalau ada temen yang nawarin barang. Mau beli gimana, nggak beli, nggak enak hati. Serba salah ... apalagi kalau “sang teman” mulai memasang muka “memelas” atau mulai mengeluarkan jurus “rayu merayu”. Aduh ... repot dah urusannya.
Leader MLM yang saya sebut di atas, melanjutkan pesannya : “Saya berada di bisnis ini karena saya ingin senantiasa sehat dan awet muda, Anda bisa melihat sendiri bahwa penampilan saya TERBUKTI puluhan tahun tampak muda dibanding usia saya yang sebenarnya. Kalau saya bertemu dengan teman – teman lama saya yang sudah lama tidak bertemu , biasanya mereka “protes” : “Bagaimana bisa kamu tampak semuda ini ?” Saya biasanya menjawab : “Karena saya berada di bisnis ini !”. Kebanyakan dari mereka kemudian bergabung tanpa saya ajak. Membeli produk tanpa saya harus banyak berkata – kata. Simple”

Sebagai catatan, Leader MLM yang saya maksud di atas, saat ini sudah meraih predikat “5 MILLION DOLLAR MEMBER”. Seseorang yang telah mendapat akumulasi penghasilan lebih dari Rp. 50 Milyar dari bisnis ini (Dengan duit sebanyak itu, kira – kira bisa membuat berapa biji pabrik rokok ya ? ) . Ini fakta, bukan ngibul. Perusahaan MLM yang diikutinya diaudit oleh lembaga keuangan Independen Price Waterhouse Cooper dan listing di Wallstreet.

Jadi ...

Kalau produknya susah dijual, harganya mahal, ya sudah. Nggak usah jualan produk itu. Kesannya maksa – maksain diri ...

Tapi ...

Kalau produknya TERBUKTI laku meskipun harganya “mahal” dan TERBUKTI bisa MENCETAK ribuan MILYUNER baru karena berhasil MEMASARKAN produk itu, ... sementara ... kita jalan ditempat dan TIDAK BISA MEMASARKAN produk yang sama dengan harga yang sama disaat RIBUAN ORANG TERBUKTI bisa memasarkannya, kita bisa melakukan introspeksi diri. Kira – kira kesalahannya ada pada produknya ? Harganya ? Perusahaannya ? Marketing Plan nya ? Support System nya ? Atau ... justru masalahnya ada pada diri kita sendiri ?

Mungkin saat ini Anda TELAH berada di perusahaan MLM yang tepat, yang memiliki produk – produk yang laku keras dan berkualitas, dengan marketing plan yang sangat baik dan didukung oleh support system yang solid. Apakah dengan semua itu bisa menjamin bahwa Anda akan sukses dan kaya raya ? Tidak. Masalahnya terletak pada SEJAUH MANA ANDA BISA DIPERCAYA.

Anda bisa menjual APAPUN selama Anda bisa membuat orang lain PERCAYA. Tidak sulit bagi siapapun untuk dapat meraih kepercayaan, ketika bisa memberikan BUKTI NYATA. Demonstrated.

Senin, 13 September 2010

Misi Emosional - Spiritual


Dalam kesempatan ini ijinkan saya mengucapkan selamat hari raya Iedul Fitri bagi yang merayakannya. Mudah – mudahan 30 hari melakukan ibadah shaum berbuah fitrah. Kembali suci.

Saya yakin, sangat yakin, tidak ada seorangpun kaum Muslim yang telah baligh, yang melakukan ibadah shaum karena menginginkan rumah dan mobil mewah apalagi kapal pesiar ;-) Kaum Muslim melakukan ibadah shaum karena ingin melaksanakan perintah Tuhan nya. Beribadah. MISI SPIRITUAL seperti inilah yang dimiliki oleh kaum Muslim saat menunaikan ibadah shaum.

***

Disaat awal ber-MLM-ria biasanya para sponsor akan mendorong para member baru untuk berani bermimpi. Impian itulah yang kemudian menjadi MISI pribadi dalam ber – MLM – ria. MISI MATERIAL biasanya adalah “Misi standar” di saat – saat awal ber – MLM –ria. PERCIS seperti anak kecil (Belum Baligh) yang baru belajar ber puasa. Biasanya para orang tua memberi “stimulus awal” berupa MISI MATERIAL : “’Nak, puasanya yang rajin ya ....Kalau puasanya tamat, nanti dibeliin baju baru !”. Stimulus seperti ini lumayan efektif untuk anak –anak kecil yang baru belajar ber puasa. Percis seperti para sponsor yang memberi stimulus kepada para member MLM baru : “ Rajin prospek ya ... rajin ngundang orang ya .... agar bisa dapat mobil !”

Berkaitan dengan MISI MATERIAL, dalam konsep neuro linguistic Program (NLP) , si otak memang harus dirangsang untuk bisa membayangkan secara jelas tentang sesuatu yang diinginkan. Agar bisa lebih jelas, MISI (baca : impian) itu harus berbentuk benda (materi) atau yang dibendakan. Percis seperti anak kecil yang BERJUANG menahan haus dan lapar selama 30 hari karena otaknya telah bisa melihat dengan jelas betapa bahagianya bisa bangun pagi di hari Iedul Fitri dengan Sepatu dan baju baru sebagai REWARD dari orang tua setelah berhasil menunaikan puasa selama satu bulan penuh.

Ketika seorang Muslim beranjak remaja, MISI dalam ber puasa tidak sekedar MISI MATERIAL, namun sudah mulai memiliki MISI EMOSIONAL. Ingin (belajar) menjadikan dirinya menjadi manusia yang lebih baik. Lebih sabar, bisa mengendalikan nafsu makan dan nafsu amarah, lebih memiliki kepedulian sosial. Seseorang yang telah memiliki MISI EMOSIONAL dalam ber puasa, akan tetap berpuasa meskipun tidak ada seorangpun yang menjanjikan akan membelikan sepatu dan baju baru untuk ber hari raya. Percis seperti member MLM yang mulai “remaja”, Ia akan tetap ber MLM ria karena telah memiliki MISI EMOSIONAL misalnya : “Saya ingin bisa berguna bagi sesama”, “Saya ingin bisa membantu sekian banyak anak yatim piatu suatu saat nanti.” “Saya ingin tetap bisa bersosialisasi dan banyak teman yang berpikiran positif di usia saya yang menjelang senja.” ...

Seseorang yang menginjak usia remaja yang kemudian tidak mau berpuasa karena tidak ada yang menjanjikannya untuk mendapat sepatu dan baju baru tentu saja masuk ke dalam kategori remaja yang memiliki kebutuhan khusus atau remanaj yang tidak mendapat bimbingan emosional – spiritual dari lingkungannya. Sangat lucu jika ada remaja yang sudah akan menginjak usia 20-an tidak berpuasa karena orang tuanya tidak memberi stimulus “Sepatu dan baju baru.” Percis seperti member MLM yang tidak memiliki MISI EMOSIONAL. Ia akan ber henti ber-MLM-ria ketika MISI MATERIAL gagal didapatkan. “ngapain sebulan penuh payah – payah puasa kalau nggak ada yang mau membelikan saya sepatu dan baju baru ?” , “Ngapain terus –terusan ikut MLM jika
nggak kunjung kaya raya ? “

***

Memiliki MISI MATERIAL dalam ber-MLM-ria tentu saja penting. Sama dengan bekerja di dunia konvensional, kita bekerja dari pagi sampai sore setiap hari tentu saja karena memiliki MISI MATERIAL berupa UANG yang akan didapat sebagai Upah setiap bulan. Namun, jika MISI MATERIAL adalah satu – satunya alasan dalam bekerja, satu –satunya alasan dalam hidup, maka hampir dapat dipastikan seseorang akan berhenti bekerja ketika MISI itu tidak dicapainya. Hampir dapat dipastikan seseorang akan “bosan hidup”. “Ngapain kerja banting tulang kalau nggak dapat uang ?”, “Ngapain hidup lama – lama kalau miskin terus ?”.

Padahal hidup itu bukan melulu urusan materi (tentu saja materi itu penting), padahal kerja itu tidak melulu harus karena uang. Ada hal lain SELAIN UANG yang bisa mendorong kita untuk tetap setia mengerjakan sebuah pekerjaan tertentu. Ada hal lain selain uang yang bisa membuat hidup kita sedih atau bahagia. Buktinya, tidak sedikit orang kaya yang bersedih, dan tiduk kurang orang miskin yang bisa hidup dengan penuh damai dan syukur, berbahagia.

Adakah orang yang tetap bekerja dan mengerjakan sesuatu meskipun Ia tidak atau belum mendapat uang dari yang dikerjakannya ? Tentu saja manusia seperti ini jumlahnya lumayan banyak. Orang – orang seperti ini biasanya adalah orang yang memiliki MISI EMOSIONAL dalam hidupnya. Para pejuang ’45 BEKERJA siang malam sepanjang hidupnya bukan untuk mendapat rumah dan mobil mewah, namun untuk sebuah kata : “Merdeka !”, sekian banyak “abdi dalem” di keraton Yogya tetap setia pada pekerjaannya meskipun “upah’ dari apa yang dikerjakannya sangat amat tidak cukup untuk membeli beras dan lauk pauk bagi keluarganya.Bahkan sekian banyak orang bersedia menjabat sebagai pejabat “ketua RT” atau “Ketua RW” meskipun jabatan itu sama sekali nggak ada duitnya. Sekian banyak guru bantu tetap mengajar anak didiknya di daerah pedalaman meskipun Ia tidak hidup dari gaji seorang guru, meskipun Ia harus bekerja di bidang lain agar Ia tetap bisa mengajar dan membaktikan dirinya bagi upaya turut serta MENCERDASKAN bangsa.

Saya juga mengenal sekian banyak leader MLM yang sudah mapan yang tetap ber MLM ria BUKAN KARENA RAKUS dan ingin bertambah kaya, bukan sekedar menjalankan MISI MATERIAL, mereka sudah merasa cukup dan bersyukur dengan sekian banyak limpahan MATERI yang telah dimilikinya, namun mereka memiliki MISI EMOSIONAL untuk BERBUAT BAIK dan MEMBANTU sekian banyak orang agar bisa meningkatkan KUALITAS kehidupannya. Saya mengenal sekian banyak praktisi MLM yang tidak mendapat uang dari ber – MLM – ria namun tetap menekuni “bisnis” ini karena sekian banyak alasan lain SELAIN UANG.

MISI EMOSIONAL mutlak diperlukan bagi para praktisi MLM selain MISI MATERIAL. Jika seorang praktisi MLM hanya memiliki MISI MATERIAL, ia akan berhenti ketika misi itu gagal dijalankannya, ia akan menjadi orang yang tamak dan rakus ketika misi itu berhasil dijalankannya. Ia akan menjadi orang yang pandai menyalahkan orang lain dan lingkungannya ketika ia gagal menjalankan MISI MATERIAL nya.

Sebagai praktisi dalam industri MLM, seyogyanya tidak hanya mengarahkan member baru hanya pada pencapaian MISI MATERI. Kita sama – sama telah mengetahui bahwa perbandingan antara orang yang “gagal” dan “sukses” dalam menjalankan MISI MATERI di industri ini perbandingannya adalah 99 : 1. Bahkan 99 : 0.001, sebuah peluang yang jauh lebih kecil dibanding main judi di Las vegas sana.

Selain MISI MATERIAL, seyogyanya kita juga memiliki MISI EMOSIONAL misalnya dengan MENJADI pendorong KEBAIKAN di lingkungan kita dengan MEMBERDAYAKAN (Bukan memperdaya) orang – orang untuk bersama – sama berbuat baik melalui produk – produk yang kita distribusikan dimana produk tersebut JELAS manfaatnya dan dijual dengan harga dan cara yang wajar.

Jika member MLM telah memiliki MISI EMOSIONAL disamping MISI SPIRITUAL, maka Ia akan tetap ber-MLM-ria meskipun belum berhasil secara MATERIAL.
Jika kita telah menetapkan MISI EMOSIONAL kita (misalnya) untuk MENJADI pendorong KEBAIKAN di lingkungan kita, maka kita akan TETAP BERBUAT BAIK tanpa harus menunggu menjadi orang yang kaya raya.

Tetaplah BERJUANG untuk menjalankan MISI MATERIAL seolah kita akan hidup selamanya.
Tetaplah BERBUAT AMAL BAIK dengan menjalankan MISI EMOSIONAL – SPIRITUAL seolah kita akan mati besok pagi.

Semoga setelah sebulan ber puasa, kita dapat melakukan Re – Mission. Menimbang ulang Misi kita dalam ber- MLM – ria agar tidak sekedar berorientasi Material.

Semoga bermanfaat.

Taqoballahu Minna Wa minkum. Taqoballahu Yaa Kariim ...
Bandung, 14 September 2010