about me I

Senin, 26 Desember 2011

MLM dan Budaya Paternalistik

Masyarakat Indonesia yang kita cinta adalah masyarakat paternalistik. Itulah yang membuat perang Pangeran Diponegoro selesai tahun 1830, kenapa? Alasannya hanya satu : Karena Pangeran Diponegoro tertangkap. Masyarakat Indonesia yang kita cinta adalah masyarakat paternalistik. Itulah yang membuat perusahaan - perusahaan MLM ( Multi Level Marketing ) yang menggantungkan diri pada nama besar seorang publik figur harus ikut meredup seiring memudarnya pamor sang publik figur.



Mayoritas MLM di Indonesia masih menganut sistem peternalistik, masih mengandalkan figur - figur sentral. figur sentral selama ini memang terbukti mampu menambah jumlah member dan bisa dijadikan alat untuk menaikkan omzet. Namun, ketika figur - figur sentral yang dimaksud adalah para top leader yang dimiliki oleh perusahaan MLM, dan ketika perusahaan MLM tersebut telah menggantungkan diri pada figur - figur tersebut, maka pada saat bersamaan "hidup dan mati" nya perusahaan MLM tersebut secara langsung tidak langsung berada di tangan para top leader yang sudah menjadi figur sentral bagi sekian banyak member -  member lainnya.


Adakah yang salah dari sistem MLM Paternalistik seperti ini ?


Jika kita bertanya kepada para top leader yang di - figur - kan atau dijadikan figur sentral di perusahaan MLM manapun mengenai : " Buat apa mereka mendirikan support system ?" Secara umum pasti akan menjawab : "Untuk membantu member - membernya agar bisa "sukses" seperti para top leader yang sudah terbukti 'sukses' " ... oleh karena itu ... seringkali dalam seminar - seminar yang pernah saya ikuti semenjak tahun 1999 sampai dengan sekarang, di atas panggung, sang top leader selalu berpesan : "Sudahlah ... jangan kelamaan mikir ... ikuti saja system yang telah kami buat agar anda semua bisa sukses seperti kami ...!"  (Kalimat ini biasanya disambut dengan tepukan penuh antusias dan teriakan menggema dari ribuan member yang serentak berteriak : "Rrrruarrrr Biasaaa !"  ;-)




(Ehmm ...)  << batuk >>


Mari kita lihat faktanya :       Coba perhatikan ... dari 100% member MLM yang aktif  5 tahun yang lalu, ada berapa orang yang hari ini masih duduk di bangku seminar ? Ada berapa orang yang sudah 'sukses' ? Ada berapa orang yang sudah dapat mobil dan rumah mewah, punya penghasilan 'ratusan juta perbulan' serta sudah puas keliling dunia ? 1% ?  0.1%  ?
0.001 % ?




Semenjak saya diperkenalkan dengan MLM di tahun 1992, Terjun ke MLM di tahun 1999, saya banyak melihat banyak support system yang didirikan tidak lebih hanya untuk kepentingan praktis, misalnya : Bagaimana membuat sang top leader agar tetap kaya atau makin kaya. Di sisi lain, perusahaan memang membutuhkan top leader yang sudah di-figur-kan itu, untuk menjadi penggerak perekrutan member-member baru demi stabilitas omzet.


Yang mengenaskan adalah ... silahkan browsing di internet, tentang sekian banyak top leader yang pernah kaya raya di perusahaan MLM yang lama, kemudian "loncat" ke MLM yang lebih baru dengan tujuan untuk meraih kesejahteraan pribadi yang lebih baik   ;-)  Itu faktanya. Silahkan bertanya lebih lanjut pada paman google.  :-)



Selain sebagai alat untuk menambah jumlah member, Top Leader di sebuah MLM tertentu juga menjadi alat penggerak perusahaan yang dinamis. Kenapa kok bisa Top leader menjadi alat penggerak sebuah perusahaan MLM ? Usut punya usut, beberapa Top Leader di beberapa MLM tertentu ternyata memang memiiki saham kepemilikan di perusahaan MLM tersebut. Jelas, jika faktor ini diabaikan dari sebagian besar sistem per MLM an di negeri ini, maka banyak perusahaan MLM di negeri kita akan limbung karena kehilangan sumber dana.

MASA DEPAN MLM PASCA BUDAYA PATERNALISTIK

Para pemimpin yang menganut budaya paternalistik dan berkuasa selama puluhan tahun, pada akhirnya mulai terkikis  oleh ... kemajuan di bidang tekhnologi informasi. Pak Harto yang secara pribadi saya kagumi, harus lengser karena kemajuan IT & T, Bapak BJ. Habiebie yang secara pribadi adalah salah satu rule model saya, ketika menjabat sebagai Presiden, beliau harus pusing tujuh keliling gara-gara internet ... :-)

Internet sudah mulai merubah cara berpikir, cara bersosialisasi dan .. cara dalam ber MLM ria :-) Kekuatan seminar - seminar kolosal yang dibintangi oleh para top leader yang sibuk jingkrak-jingkrak di panggung sambil pamer-pamer harta mulai tersaingi oleh ... internet :-)  Masyarakat yang sudah ber internet ria sudah bisa mengakses informasi dari berbagai arah, dan ... tak mudah lagi terbius dengan orasi -orasi monolog dan teriakan - teriakan lantang para macan panggung yang masih kental menerapkan sistem paternalistik. Seolah - olah ribuan peserta seminar adalah anak-anak ingusan yang tak berhak untuk berpikir dan berbicara selain bertepuk tangan dan sesekali berteriak "Rrruarrr biaaasaaa !". Dominasi macan panggung yang mahir bersilat lidah di era paternalistik akan mulai tersaingi oleh pendekar - pendekar MLM di dunia maya yang mahir bersilat keyboard :-) Budaya monolog dan komunikasi satu arah di era paternalistik akan bergeser ke era budaya dialog dan komunikasi dua arah di era internet :-)

Disaat sedang terjadi "Mixing" diantara era paternalistik  dan era informasi ...

InterNET + NETwork marketing = Peluang besar


Keahlian sebagai Macan Panggung yang pandai bersilat lidah, harus mulai disertai dengan keahlian bersilat keyboard ala pendekar di dunia maya ;-)


Silahkan hubungi saya untuk berbagi cerita seputar lika-liku MLM.
Silahkan hubungi saya jika anda berminat untuk menerbitkan tulisan - tulisan saya menjadi sebuah buku :-)

putudjajadiwangsa@gmail.com
www.likalikumlm.blogspot.com